Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Siapa yang Lebih Parah...?

Seorang santri  mendatangi rumah seorang Kyai di Kampung yang terkenal amat mumpuni dalam ilmu hadits. Tetapi saat ia memasuki rumah kyai dan duduk di ruang tamu, timbullah banyak pertanyaan dalam pikirnya mengapa banyak gambar tertempel di dinding, mulai dari gambar presiden dan wapresnya, hingga gambar keluarganya.

"Wah, kiyai ini konon ahli hadits, tetapi kok tidak mengamalkan hadits" pikir santri  "Saya harus mempertanyakan masalah ini dengan kritis".

Melihat sang tamu duduk termenung, kyai bertanya " Nak , apa yang kamu pikirkan ?"

"Saya tuh heran kyai, anda konon dikenal sebagai ahli hadits, tetapi mengapa anda masih menempelkan foto-foto itu ?" tanya santri sambil menunjuk ke arah dinding ." Bukankah itu menyalahi apa yang dinyatakanNabi ? " Tanya santri lagi.

Alih-alih langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan sang santri,Kyai dengan roman muka kaget dan kebingungan, melakukan gerakanseperti mencari-cari sesuatu dari saku baju kokonya, tetapi ia tidakmenemukan sesuatu, ia pun mencari-cari sesuatu dari dompetnya, tetapijuga tidak ada. Santri melihat Kyai dengan wajah bertanya-tanya.

Kyai memanggil pelayannya dan meminta agar istri Kyai mengambilkan uang Rp 50.000, karena ia teringat harus membayar upah kerja kepada tukang.

Saat mendengar alasan kyai yang sibuk- mencari-cari sesuatu, Santri berkata , " Oh pak Kyai, kalau begitu, tak usahlah risau, biar ini saya talangi dulu" kata Santri sambil menanggalkan kopiah hitamnya, kemudian mengambil selembar Senyuman HMS dari lipatan di kopiahnya.

Dengan muka ceria sang Kyai, menerima uang Rp 50.000 itu memandangi gambar HMSnya, kemudian memandang ke dinding , lalu berkata, " Wah... nak Santri, menjawab pertanyaan anda tentang hadits memasang gambar, saya sih tidak separah anda , saya hanya memasang di dinding dan itupun dhohir terlihat orang lain. Sementara anda menempatkan gambar HMS secara khusus, teramat pribadi, dan bahkan di tempat sangat mulya di atas kepala anda ".

Presiden SBY Pimpin Upacara Peringatan Pancasila Sakti

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Sabtu. Presiden pada upacara yang akan dimulai pukul 08.00 WIB itu bertindak sebagai inspektur upacara yang dihadiri juga oleh Wakil Presiden Boediono, menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, pimpinan lembaga negara, serta duta besar perwakilan negara sahabat.

Tema peringatan Hari Pancasila Sakti pada 2011 adalah "Dengan Peringatan Hari Pancasila Kita perkokoh Semangat Persatuan dan Kesatuan Menuju Bangsa Indonesia yang Berkarakter." Upacara peringatan Pancasila Sakti rutin digelar setiap tahun sejak mantan Presiden Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Angkatan Darat mengeluarkan surat keputusan tanggal 14 Oktober 1966.
Upacara pertama kali diikuti oleh seluruh angkatan perang terdiri atas unsur angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara. Unsur kepolisian baru dikutsertakan dalam upacara peringatan tersebut setelah Soeharto yang saat itu menjabat Menteri Utama Pertahanan merevisi surat keputusan pada 20 Oktober 1966.
Peringatan Hari Pancasila Sakti dilakukan setelah tragedi berdarah pada 30 September 1965 yang menewaskan enam petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yaitu, Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI R Suprapto, Mayjen TNI MT Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, serta ajudan Jenderal TNI AH Nasution Lettu Pierre Tendean dan putrinya Ade Irma Suryani Nasution.
Jenazah mereka yang kemudian diberi gelar pahlawan revolusi itu ditemukan di sebuah sumur di kawasan Lubang Buaya, Pondok Gede, pada 3 Oktober 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

17 Polisi Dinyatakan Terlibat Pemerkosaan Massal di India

Sebanyak 17 polisi dan staf kehutanan di India dinyatakan terlibat dalam pemerkosaan massal di sebuah kelompok suku kasta terendah di sebelah selatan negara bagian Tamil Nadu pada tahun 1992. Demikian dilansir AP, Jumat (30/9/2011).
Press Trust of India melaporkan bahwa sedikitnya ada 100 anggota kepolisian lainnya dinyatakan bersalah karena memukuli belasan orang dari desa dalit. Dalit adalah kasta terendah di India dan tak boleh disentuh.
Insiden ini terjadi saat polisi menyerbu desa Vacathi untuk mencari penyelundupan kayu cendana. Dalam dua hari penyerbuan itu, 18 perempuan diperkosa dan 100 orang dipukuli dalam kondisi sangat mengenaskan.
Dalam putusan pengadilan di India yang akan dirilis pada pekan depan, sejumlah pelaku sudah meninggal ketika kasus ini bergulir dan membuat India dikenal dengan sistem hukum paling buruk dan lambat.
Pandangan Buruk terhadap POLISI...

Saya rasa tak bisa dihilangkan dan dibersihkan dari jajaran tersebut kalau mereka terus membuat Ulah,
Bagaimana masyarakat luas percaya mereka bisa mengayomi, melindungi, dan sebagainya kalau mereka tersebut malah berbuat sebaliknya… ?
Cape deh…..
Lihat berita baru ini… apakah pantas mereka berbuat begitu….?
Hanya bisa berucap Astargfirullahal’azim
Tapi.. itu semua kembali terhadap INDIVIDUnya, saya yakin tidak semua POLISI yang seperti itu.


Dermawan Misterius Tinggalkan Duit Rp 1 Miliar di Toilet

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang dermawan yang tidak ingin diketahui identitasnya meninggalkan uang sebesar 10 juta yen atau sekitar Rp 1,17 miliar di sebuah toilet umum, untuk penyandang cacat di pusat perbelanjaan Sakado, Jepang.
Uang sebesar itu dibungkus dalam tas plastik dan ditemukan pada 22 September. Tumpukan uang ini disertai tulisan pesan yang berbunyi, "Saya sebatang kara. Saya tidak mempunyai masa depan jadi biarkan warga Tohuku menggunakan uang ini."
Tohuku adalah wilayah Jepang bagian utara yang diguncang gempa bumi dan tsunami Maret lalu. Para pejabat Sakado mengatakan gerak-gerik dermawan tidak terdeteksi.
"Tidak ada saksi mata dalam peristiwa ini dan kita tidak bisa mereka-reka orang seperti apa yang melakukan ini," jelas juru bicara pemerintah daerah Sakado, Masumi Sekiguchi.
Dia menambahkan, pihak berwenang betul-betul terkejut dan berterima kasih atas kebaikan hati dermawan misterius tersebut. Mereka berencana menyerahkan uang tersebut kepada Palang Merah Jepang bila tidak ada yang mengaku dalam waktu tiga bulan.
Bencana alam dasyat di Jepang baru-baru ini telah menunjukkan kemurahan hati dan kejujuran rakyat negara itu, lapor wartawan BBC di Tokyo, Roland Buerk.
Sebelumnya uang tunai setara Rp450 juta juga ditemukan di kawasan bencana. Uang tersebut kemudian diserahkan kepada polisi. Beberapa waktu kemudian juga ditemukan brangkas uang berisi puluhan juta dolar di tengah reruntuhan.

Harajuku, Perpaduan Tradisional dan Modern

Pada sebuah Minggu sore, saya berkesempatan menginjakkan kaki di Harajuku, Tokyo. Dari stasiun pemberhentian kereta JR saya menyeberang jalan dan sampai di Takeshi Dori, jalan yang menjadi ciri khas tempat anak muda Jepang mengekspresikan diri ini.

Tujuan pertama adalah gerbang Harajuku. Sepanjang jalan menuju gerbang, puluhan remaja Tokyo tampil dengan berbagai gaya dandanan (biasa disebut “cosplay”, singkatan dari costume play), mulai dari gothic hingga anime. Yang unik, banyak juga turis sengaja berdandan gothic dan ikutan tampil sepanjang jalan. Seandainya, saya percaya diri seperti mereka!






Ada juga yang ngamen, lengkap dengan drum dan gitar elektrik dan juga penyedia jasa kaligrafi Jepang dengan berbagai model tulisan kanji yang digelar di tengah jalan. Yang terakhir ini, sepintas seperti jajaran tukang tato jalanan di daerah Melawai-Blok M Jakarta.



Gerbang Harajuku merupakan titik awal jalan setapak menuju Meiji Jingu, kuil yang menjadi saksi sejarah periode Meiji. Daerah Harajuku memang merupakan perkawinan tradisional dan modern. Di sebelah kiri, di daerah Yoyogi menampilkan unsur tradisional, sementara di sisi kanan, Harajuku modern, mulai dari bangunan dan gaya hidupnya (makanan, kostum, butik, dan pengunjungnya)

Sepanjang jalan menuju kuil, kita bisa melihat jajaran drum anggur yang dulunya adalah lokasi tempat penyimpanan anggur milik kaisar. Masuk ke dalam jalan setapak yang ada di kiri jalan, kita akan digiring menuju taman Yoyogi yang asri. Puas menikmati hijaunya taman, kita melanjutkan ke kuil Meiji. Di kuil ini, kita bisa menyampaikan keinginan kita di papan kayu (dijual seharga 500 yen). Papan kayu ini kemudian digantung di satu papan besar yang ada di halaman kuil.
Saya balik ke stasiun Harajuku untuk merasakan kepadatan jalan Takeshi, yang merupakan daya tarik Harajuku. Harus diakui kepadatan orang yang lewat di jalan ini di Minggu sore memang tidak kalah dengan kerumunan di PRJ Kemayoran. Sambil berdesak-desakan, saya melihat baju dan aksesori yang dijual di sepanjang jalan.








Dari kejauhan, di salah satu jalan kecil menuju kawasan butik mewah Omotesando, saya melihat antrean panjang orang membeli takoyaki! Pilihan takoyaki di daftar menu agak membuat saya kagok, tapi akhirnya saya mencoba takoyaki dengan saus mentaiko.

Sambil menyantap takoyaki, saya menyusuri Omotesando, daerah yang sering disebut Champs-Elysees-nya Tokyo. Di belakang toko mewah, terlihat beberapa gedung menjulang yang merupakan apartemen mewah yang menjadi tempat tinggal banyak selebritas Jepang. Konon salah satu gedung tinggi itu adalah tempat tinggal penyanyi wanita Jepang terkenal, Ayumi Hamasaki.



Sedangkan menengok ke dalam toko-toko di sepanjang jalan ini memang membuat mata segar. Tetapi jelas membuat kantong menjerit kalau nekat berbelanja di sini. Ketika masuk toko Nike, misalnya. Seperti model-model sepatu yang dijual model terbatas.

Saya sempat melihat sepatu olahraga motif batik, yang kabarnya hanya diproduksi sekitar tiga ratus pasang. Di Indonesia saja tidak ada, eh, malah dijual di Jepang. Saya tidak berani mencari tahu harganya. Takut tidak siap mental.

Oleh Syanne Susita
Sumber : http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/204-harajuku-perpaduan-tradisional-dan-modern